Mempercayai Pertanda, Bolehkah dalam Islam ?

Dua  hari yang lalu, Kakak sepupu saya berujar, “Dua hari ini mata kanan saya berkedip (jutjutan) terus, apa mau dapat rezeki ya ?”. Lalu ibu saya menyahut, “Nah,,, mau dapat rezeki tuh,,,”.

Walaupun hal seperti itu “untung-untungan” (maksudnya kalo bener dapat rezeki, Alhamdulillah,,, kalo gak ya gak papa), sebaiknya tetap berhati-hati karena bisa menjerumuskan kita pada syirik asghar. Apatah lagi kalau sampai benar-benar meyakininya, harap-harap kalau besok akan dapat rezeki karena ada tanda mata yang berkedip-kedip.

Dalam agama Islam, hal ini dinamakan Tathayyur/Thiyarah. Secara bahasa, kata thiyaroh (anggapan merasa sial/pamali) adalah isim mashdar dari kata tathayyara yang mana asal katanya adalah tha`irun yang berarti burung. Hal ini karena dulu, orang-orang Arab jahiliyah ketika mereka hendak mengadakan suatu perjalanan maka mereka terlebih dahulu melempar seekor burung ke udara, jika burungnya terbang ke kanan maka mereka melanjutkan rencana keberangkatan mereka karena itu adalah pertanda baik dan jika burungnya terbang ke kiri maka mereka membatalkan perjalanan tersebut karena itu adalah pertanda jelek.

Adapun secara istilah, thiyarah adalah menjadikan/menyandarkan kesialan kepada sesuatu yang dilihat atau yang didengar atau yang diketahui.[1]

Dari Abdullah bin Mas’ud dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda:

الطِّيَرَةُ شِرْكٌ الطِّيَرَةُ شِرْكٌ ثَلَاثًا

“Thiyarah adalah syirik, thiyarah adalah syirik -tiga kali-.” (HR. Abu Daud no. 3910 dan Ibnu Majah no. 3528)

Thiyarah dihukumi kesyirikan berdasarkan kaidah : “menjadikan sesuatu menjadi sebab padahal dia bukanlah sebab syar’i dan bukan pula sebab kauni adalah kesyirikan”, maka itu adalah syirik asghar. Misalnya meyakini bahwa adanya burung gagak di atas sebuah rumah menunjukkan akan ada hal jelek yang akan menimpa penghuninya. Burung gagak bukanlah sebab syar’i dari timbulnya musibah, yakni syariat tidak pernah menerangkan kalau itu merupakan sebab datangnya musibah. Dan dia juga bukanlah sebab kauni dari timbulnya musibah, maksudnya sama sekali tidak ada hubungan sebab akibat antara burung gagak dan musibah. Karenanya menjadikan gagak sebagai sebab datangnya musibah merupakan syirik asghar.

Hanya saja, hukum tathayyur ini bisa menjadi syirik akbar yang mengeluarkan pelakunya dari Islam. Yaitu jika dia sudah tidak meyakini sesuatu itu menjadi sebab, akan tetapi dia meyakini sesuatu itulah yang berbuat dengan sendirinya. Misalnya pada contoh di atas: Jika dia menjadikan burung gagak sebagai sebab musibah dan tetap meyakini musibah datangnya dari Allah maka ini adalah syirik asghar. Tapi jika dia meyakini burung gagak inilah yang mendatangkan musibah (bukan sebagai sebab), maka ini adalah syirik akbar dalam masalah rububiah, karena dia meyakini adanya makhluk yang juga mengatur maslahat dan mafsadat di samping Allah Ta’ala. [2]

Penyebab Tathayyur

Adapun penyebab utama penyakit ini adalah adanya buruk sangka terhadap Allah dan lemahnya iman seseorang terhadap qadha dan qadar. Selain itu, penyakit ini diakibatkan juga oleh hal-hal berikut:

  1. Adanya keyakinan sesat yang menyimpang dari tauhidullah (tauhidur-rububiyah). Adanya pengaruh aliran animisme yang mempercayai benda-benda pembawa kemujuran, seperti cincin, jimat, wafaq, dan lafad-lafad Al Qur’an yang dipasang di leher.
  2. Kurangnya pengetahuan dan pengalaman seseorang dalam membaca ayat-ayat kauniyah (tanda-tanda kebesaran Allah yang tersebar di bumi). Padahal pemahaman terhadap ayat-ayat kauniyah melalui penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi  baik yang diajarkan oleh orang Islam maupun orang kafir dapat membantu menyelesaikan problematika hidup. Sebagai contoh, penguasaan terhadap ilmu dan strategi ekonomi, Insya Allah, akan membantu mempercepat keberhasilan dalam berusaha.
  3. Tidak ada rasa tawakal atau menyerah tanpa syarat terhadap kekuasaan Allah.

Seorang mukmin wajib menghindari penyakit ini, diantaranya dengan cara berikut:

  1. Menguatkan iman dengan tauhid, karena tathayyur itu termasuk perbuatan syirik. Rasulullah Saw bersabda:”Thiyarah itu syirik” (Rasul mengulanginya sampai tiga kali)
  2. Menghindari semua penyebabnya.
  3. Bekerja sebaik dan semaksimal mungkin dengan menggunakan manajemem yang baik.
  4. Meyakini dan memahami bahwa tidak ada thiyarah (suatu pertanda) pun yang dapat mempengaruhi untung dan ruginya suatu usaha, selain akibat usahanya sendiri.
  5. Mewaspadai unsur atau pihak-pihak yang cenderung mengganggu kelancaran usaha dan merusak hasilnya, seperti berzinah, bermewah-mewahan, atau tinggal di lingkungan yang penghuninya orang-orang yang buruk akhlak. Rasulullah Saw bersabda: “Tidak ada akibat tanpa sebab, dan tidak ada tathayyur (dalam sesuatu pun). Terjadinya suatu cela dalam usaha diakibatkan oleh tiga hal, yaitu kuda (alat transportasi yang mewah), perempuan (yang buruk akhlaknya), dan tempat tinggal (yang buruk penghuninya).” (HR Bukhari Muslim)
  6. Menghilangkan sepenuhnya penyakit tathayyur ini dengan bertawakal kepada Allah sejak awal usaha sampai evaluasi hasilnya. Rasulullah Saw bersabda: “Akan tetapi Allah menghilangkan penyakit (tathayyur) ini dengan bertawakal kepada-Nya.” (HR Abu Daud)
  7. Menghindari prasangka buruk yang didasari pada praktek-praktek sejenis tathayyur (praktek mistik) yang menjanjikan sejuta khayalan setani. Kemudian menghiasi perjalanan awal dalam segala upaya dengan mengambil berkah dari kalimat La Ilaha Illallah yang membekali semangat dan optimis kerja, dengan niat semata-mata karena Allah, dan beribadah berdasarkan syariah-Nya, menuju ridha Allah.
  8. Jika setan membisikkan tathayyur dalam telinga batin, segeralah membaca kalimat ta’uz (istia’zah), beristighfar, dan berdoa dengan kalimat berikut:
 اللهم لا يأتي بالحسنات إلا أنت ولا يدفع با السيئات ولا قوة إلا بك
“Ya Allah, tak ada yang mampu mendatangkan segala kebaikan melainkan dengan kekuasaanMu, tidak ada yang mampu menolak segala keburukan melainkan dengan kekuasaanMu, tidak ada daya kekuatan hanya kepadaMu.” (HR Abu Daud) [3]

——————

[1] Lihat di http://al-atsariyyah.com/tidak-ada-penyakit-menular.html

[2] Lihat di http://al-atsariyyah.com/1655.html

[3] Lihat di http://insanshalih.blogspot.com/2011/01/percaya-takhayul.html

2 responses to this post.

  1. Posted by abu abdillah on 2 November 2011 at 8:06 am

    assalaamu ‘alaikum warahmatullah…
    hendakX dlm pnulisan semisal “swt,saw,ra,as” agr ditulis lengkp & tdk boleh disingkat2,krn didalamX ada do’a/pemuliaan,sehingga maksud & tu7an haX akan sampe jk ditulis scr lengkp.
    Ulama pun tdk membolehkn penyingkatan2 demikian.
    jazakallaahu khair…
    wassalaamu ‘alaikum warahmatullah…

    Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: