Kesal dengan Perilaku Orangtua ? Ingatlah Ini!!

Terkadang kita sering merasa kesal dengan perilaku orangtua kita, terlebih yang sudah renta. Nampaknya, kita terlupa dengan kenyataan bahwa kondisi tua adalah kondisi kita (manusia) kembali kekejadian awal kita, anak-anak. Semakin tua, semakin lemah tubuh dan fikiran kita.Simaklah penjelasan mengenai bagaimana kita menjadi tua dan kembali lemah yang saya ambil dari Tabloid Bekam edisi 7/TH.1/2010 hal 4-5.

Tambah Usia Kian Lemah

Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman dalam Al-Qur’an :

Artinya : “dan Barangsiapa yang Kami panjangkan umurnya niscaya Kami kembalikan Dia kepada kejadian(nya). Maka Apakah mereka tidak memikirkan?” (QS. Yassiin : 68)

Dalam tafsir Fi Zhilalil Qur’an, Sayyid Quthb menguraikan bahwa masa tua renta adalah fase seseorang menjadi seperti anak-anak. Keceriaan anak-anak dan kepolosannya disenangi semua orang, namun orang tua itu terus kembali ke belakang. Dia melupakan apa yang telah ia ketahui, syarafnya melemah, pemikirannya melemah, daya tahannya melemah, hingga akhirnya ia kembali menjadi anak-anak.

Jika anak-anak itu disenangi bicaranya yang salah-salah, menarik hati dan perhatian setiap kalo ia berbuat kekeliruan. Sedangkan orangtua renta itu sebaliknya. Setiap kali ia melakukan kesalahan, maka hanya mengundang rasa kasihan. Dia juga menjadi bahan olok-olok ketika padanya tampak tanda-tanda kekanak-kanakan, sementara dia adalah orang tua renta. Dan setiap kali ia semakin bodoh, maka punggungnya menjadi bengkok. Balasan seperti itu akan mengganggu orang-orang yang mendustakan agama. Yakni mereka yang tidak diberikan anugerah keimanan yang matang dan mulia oleh Allah.

Sementara itu Ibnu Katsir dalam tafsirnya menjelaskan, bahwa Allah ta’ala menceritakan hal ihwal manusia manakala usianya telah lanjut, maka ia dikembalikan kepada kelemahan, setelah sebelumnya kuat, kepada ketidak berdayaan setelah gesit. Hal ini sebagaimana Firman Allah Ta’ala dalam surah Ar-Ruum ayat 54 :

Allah, Dialah yang menciptakan kamu dari Keadaan lemah, kemudian Dia menjadikan (kamu) sesudah keadaan lemah itu menjadi kuat, kemudian Dia menjadikan (kamu) sesudah kuat itu lemah (kembali) dan beruban. Dia menciptakan apa yang dikehendaki-Nya dan Dialah yang Maha mengetahui lagi Maha Kuasa.

Allah Azza wa Jalla berfirman dalam surah An-Nahl ayat 70 : “Allah menciptakan kamu, kemudian mewafatkan kamu; dan di antara kamu ada yang dikembalikan kepada umur yang paling lemah (pikun), supaya Dia tidak mengetahui lagi sesuatupun yang pernah diketahuinya. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui lagi Maha Kuasa.

Menurut Ibnu Katsir, maksud ayat ini – dan Allah lebih mengetahuinya – ialah hendak memberitahukan bahwa dunia ini merupakan negeri yang sirna dan tempat peralihan, dan bukan tempat menetap untuk selamanya. Karena itu Dia berfirman, “… maka apakah mereka tidak memikirkan ?” dengan akalnya ihwal awal penciptaan mereka, kemudian ke usia tua, agar mereka mengetahui bahwa mereka diciptakan untuk menuju negeri lain yang tidak akan sirna, beralih dan berpindah darinya, yaitu negeri akhirat.

Sementara itu dalam sebuah hadits shahih yang diriwayatkan Abu Hurairah rhadiallahu anhuma, Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda, “Umur umatku adalah antara 60 hingga 70 tahun. Sedikit dari mereka yang melebihi itu.

Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam pernah mengadukan pendeknya usia umat beliau itu kepada Allah ta’ala. Dengan Rahman dan Rahim-Nya yang tiada tanding, Allah Ta’ala menjelaskan, meski usia umatnya lebih pendek namun diberikan banyak keutamaan, diantaranya Lailatul Qadr, malam yang nilainya lebih dari seribu bulan.

Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda, “Tidak akan bergeser kedua kaki manusia pada hari kiamat sampai selesai ditanya tentang empat perkara, yaitu tentang umurnya, dihabiskan untuk apa; tentang masa mudanya, dipergunakan untuk apa; tentang hartanya, darimana diperoleh dan untuk apa dibelanjakan, dan tentang ilmunya, apakah sudah diamalkan.” (HR. At-Tirmidzi).

Terkadang kita lebih sabar menghadapi anak-anak daripada menghadapi orangtua. Mungkin hal ini lebih dikarenakan kita lupa tentang kondisi mereka. Bahwa sesungguhnya mereka sedang kembali kepada masa anak-anak. Kekuatan dan kepandaian mereka menurun layaknya anak-anak. Banyak hal yang tidak mereka ketahui, tidak mereka mengerti dan tidak bisa mereka lakukan.

Semoga Allah mengampuni dosa-dosa kita atas sikap kita kepada orangtua kita.

One response to this post.

  1. trima kasih artikelnya yaa…membuat saya semakin sabar menghadapi orang tua…salam kenal

    Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: