Sufi, Berdoa dan Berdzikir dengan Untaian Sajak dan Syair-Syair -2

SALAH SATU CONTOH PRODUK DZIKIR BERFORMAT SYAIR

Ilahi lastu lil firdausi ahlaan

Wa’ala Aqwa ‘alannaril jahiimi

Fahabli taubatan waghfir dzunubi

Fainnaka ghafirudz dzambil ‘adziimi

Arti :

Wahai Ilahku, aku tak pantas mendapatkan (surga) Firdaus,

Akan tetapi aku pun, tidak kuasa menahan panasnya neraka Jahim

Maka anugerahilah aku taubat dan ampuni dosa-dosaku,

Sesungguhnya Engkau Maha Mengampuni dosa-dosa besar

Sebagian orang memang sudah terbiasa mendengarkan, menghafal dan kemudian mengamalkan bacaan-bacaan sjak dan syair-syair tersebut sebagai wirid atau membacanya pada momen-momen tertentu. Sudah tentu, dengan mengharap pahala dan ganjaran dari Allah azawajalla, menggapai surge dan selamat dari neraka. Bisakah ini diterima ?

Masih banyak contoh lain, seperti syair-syair yang dibaca sebelum adzan, syair-syair yang memuat asmaul husna, termasuk yang termuat dalam buku-buku yang dibaca dalam memperingati kelahiran Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam, dan syair-syair lainnya yang biasa dilantunkan.

SUMBER AJARAN INI

Bila mencermati teks ‘dzikir’ di atas, dua untai bait syair cukup (sangat) popular di (sebagian) masyarakat. Dilantunkan jamaah shalat Jum’at dengan panduan imam masjid sebagai bagian tak terpisahkan dari dzikir-dzikir ba’da shalat Jum’at. Dua bait syair ini hanya sekedar contoh yang dipraktekkan di lapangan, dipilih sebagai contoh lantaran dilantunkannya pada hari yang mulia, hari Jum’at, dan ditempat yang mulia, masjid, dan mengiringi ba’da shalat Jum’at, disertai harapan diwafatkan dala keislaman. Tak habis fikir, mengapa disertakan dalam ibadah shalat Jum’at.

Siapapun yang menyusunnya, syair itu tidak sepantasnya menjadi pelengkap dzikir usai shalat Jum’at. Memang membaca syair bukan perkara terlarang dalam syariat. Dahulu, seorang sahabat pernah melontarkan syair di dalam masjid dan Nabi shallallahu alaihi wa sallam mengetahuinya tanpa menegur. Akan tetapi, apakah Sahabat ini melantunkannya dalam rangka secara khusus untuk berdzikir dan beribadah ? Jawabannya jelas tidak. Mengpa dua bait syair di atas senantiasa dibaca seolah-olah hukumnya sangat ditekankan ? Anggap saja dzikir dengan produk syair boleh, mengapa bukan syair orang lain, apakah tidak ada syair yang lebih baik darinya ?

Hukum berdzikir dengan syair-syair produk manusia akan menjadi jelas dengan melihat sejarah. Ternyata, praktek ajaran ini, beribadah dengan membaca syair dan melagukannya, baru muncul pada akhir abad ke 2 H. Diusung oleh kaum zanaqiqoh ke tengah kaum Muslimin di Baghdad dengan nama taghbir. Pada asalnya bersumber dari acara ibadah kaum Nasrani lewat para pemuka agama mereka yang berkuasa penuh dalam mensyariatkan apa saja sesuai dengan keinginan dan hawa nafsu pribadi mereka.

Lebih buruk lagi, fakta lain menyatakan bahwa ritual semacam ini sudah dilakukan oleh bangsa Yunani kuno yang jelas beridiologi peganisme (syirik) sebelum diutusnya Nabi Isa alaihissalam. Dahulu mereka melantunkan dan mendendangkan ilyadzah (kumpulan syair yang berjumlah 16 ribu bait) untuk Homerus untuk keperluan dzikir dan ruqyah.

Dengan demikian, gaya dzikir yang biasa dilantunkan kalangan Sufi ini bersumber dari kaum zidiq, yang mengadopsinya dari Nasrani, dan sebelumnya telah dilakukan kaum watsani (peganis Yunani). Jadi, pembaca tahu apa yang harus dilakukan.

EFEK BURUK DZIKIR DAN DOA MODEL SYAIR

Dzikir model syair yang dilagukan dengan nada tertentu jelas bukan berasal dari petunjuk Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam, utusan Allah azawajalla yang terakhir. Maka, membiasakannya sebagai bentuk ibadah untuk mendekatkan diri kepada Allah azawajalla bukan termasuk cara-cara yang tepat, justru akan membuat orang jauh dari Allah azawajalla dan ajaran Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam yang ma’shum, disadari atau tidak. Dan ini merupakan perbuatan istibdalul adna billadzi huwa khair (mengambil yang lebih rendah untuk mengganti yang lebih baik). Maksudnya, lebih perhatian dengan syair-syair yang jelas merupakan produk manusia biasa, sehebat apapun ilmunya, daripada membaca dzikir-dzikir atau wirid-wirid yang telah diajarkan Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam. Akibatnya, cepat atau lambat, dzikir dan wirid ajaran Nabi shallallahu alaihi wa sallam akan menjadi mahjur (terlupakan). Ini adalah dampak logis dari praktek ibadah tanpa panduan dari nabi shallallahu alaihi wa sallam, yaitu terbengkalainya petunjuk Nabi shallallahu alaihi wa sallam yang berkaitan dengannya secara khusus.

Selain itu bentuk doa yang berisi syair-syair dan dibaca dengan lantunan nada tertentu, dengan meninggalkan doa dan wirid yang disyariatkan merupakan perbuatan i’tida (melampaui batas dalam berdoa) yang dilarang oleh Allah azawajalla.6

Dan jangan lupakan, sisi manusiawi penyusun doa, dzikir dan wirid yang berbentuk syair. Karena seorang manusia biasa, tentu tidak ada jaminan bebas dari kesalahan, sekali lagi, sehebat apapun ilmunya. Baik itu sekedar kesalahan dalam susunan bahasa Arab dengan bahasa yang kurang fasih atau rangkaiannya biasa-biasa saja, bertentangan dengan etika kesopanan, adanya kandungan yang bid;ah, atau kesalahan yang fatal yang menjurus pada pelanggaran aqidah Islam yang bertumpu pada pengesaan Allah azawajalla dalam peribadahan dan pengagungan. Dan fakta membuktikan pelanggaran syair-syair tersebut terhadap aqidah Islam memang ada.7

Perkataan-perkataan yang berbentuk syair yang dibaca dengan nada tertentu sebenarnya hanya akan membawa pelantunnya menuju dunia ‘nyanyian’. Apalagi sebagian wirid berbentuk syair ini dilantunkan dengan mengikuti ritme lagu (pop) tertentu. Belakangan ada penyanyi dan grup musik yang mengadopsinya sebagai lirik lagu yang mereka dendangkan. Tentu ini aneh, sebuah ibadah yang dibarengi dengan sesuatu yang jelas melalaikan hati dari dzikrullah (baca: musik). Ya, ini salah satu bentuk kebatilan berbalut kebatilan yang lain, namun dipandang sebagai bentuk ibadah yang mendatangkan kebaikan (!?)

Maka tak heran bila Syaikh Bakr Abu Zaid rahimahullah mengatakan, “termasuk perkara baru dalam agama yang harus ditolak, yaitu beribadah dengan membaca syair-syair baik dalam berdoa maupun dzikir, baik dilakukan sendiri maupun berjamaah.”

ULAMA PUN SUDAH MENGINGKARI

Tidak mengherankan bila para Ulama Ahlus Sunnah mengingkari praktek berdoa dan dzikir dengan cara seperti ini, sekaligus mengingkari para pelakunya. Sebut saja Imam Syafi’i (w. 204 H), al-Hafidz Yazid bin Harun (w. 206 H), Imam Ahmad bin Hambal (w. 241 H), al-Hafidz Ubaidillah bin Muhammad bin Bathtah (w. 387 H).

Muhammad bin Walid ath-Thurthusyi (w. 520 H) mengatakan, “aneh sekali, bila engkau berpaling dari doa-doa yang disebutkan Allah azawajalla dalam kitab-Nya tentang doa-doa para nabi dan orang-orang pilihanNya yang disertai pengabulan doa-doa itu, kemudian engkau memilah-milih sendiri teks para penyair dan penulis (kitab), seolah-olah engkau telah berdoa dengan seluruh doa para nabi dan prang-orang terpilih itu, kemudian merasa butuh dengan doa-doa orang lain.”8

Allamah al-Mu’allimi rahimahullah mengatakan,  “Betapa meruginya orang yang meninggalkan doa-doa yang berasal Kitabullah atau Sunnah Rasulullah, sampai hamper-hampir tidak berdoa dengannya. Sementara itu, ia mencari yang lain dan memilihnya serta mengamalkannya secara rutin. Bukankah ini perbuatan kezhaliman dan ‘udwan (melampaui batas).9

MOTIVASI IMAM ATH-THABRAANI MENYUSUN KITAB DOA

Dalam muqaddimah kitabnya ad-Du’a Imam ath-Thabraani rahimahullah menyampikan motivasi penyusunannya dengan berkata, “Kitab ini aku susun telah mencakup doa-doa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Yang mendorongku menulisnya, aku melihat banyak orang yang justru mengamalkan doa-doa yang berbentuk sajak, doa-doa yang ditulis sesuai dengan jumlah hitungan hari, tidak pernah diriwayatkan dari Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam juga tidak berasal dari salah seorang Sahabat beliau, tidak juga berasal dari kalangan Tabi’in (generasi terbaik umat). Ditambah lagi, adanya ketidaksukaan Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam terhadap doa yang berbentuk sajak… maka aku menyusun kitab ini disertai sanad-sanadnya dari Rasul.”10

KESIMPULAN

Menjadi kewajiban umat untuk menomorsatukan petunjuk Nabi Shallallahu alaihi wa sallam dalam segala hal, termasuk mendahulukan dan lebih memilih teks-teks doa-doa dan wirid dari beliau yang jells kemuliaan dan keutamaannya. Dan ini salah satu dari hal yang menguatkan perwujudan kecintaan dan pengagungan kita kepada beliau. Ingat, pilihan Nabi shallallahu alaihi wa sallam yang ma’shum bagi umatnya adalah perkara yang terbaik, paling mendatangkan keselamatan, kebaikan dan kesuksesan. Wallahu a’lam.

Silahkan lihat pembahasan ini dalam kitab :

  1. Tashhidud Du’a, DR. Bakr Abu Zaid. Hlm. 93-99
  2. Fiqhul Ad’iyai wal Adzkar, Prof. DR. Abdur Razzaq al-‘Abbad al-Badr 4/7-10, 2/44-57

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: