Hukum Makanan dan Minuman yang Bercampur Khamr dan Alkohol

Dalam tulisan terdahulu yang berjudul “Awas! Ada Arak dalam Makanan” kita sudah mafhum bahwa sebagian orang (khususnya para koki dan ahli masak) mencampurkan khamar (arak/wine) ke dalam masakannya agar cita rasanya semakin enak dan nikmat. Bahkan sebagian lagi menambahkan alkohol (entah alkohol murni atau khamar yang kandungan alkoholnya tinggi) sehingga menimpulkan api pada masakan saat di masak.

Saya pernah menyaksikan hal ini di televisi pada acara memasak dengan seorang chef yang mencampurkan cairan tertentu pada masakannya hingga mengeluarkan api yang menyembur ke atas. Saat di tanya pembawa acara yang saat itu menemani memasak, si chef menjawab “itu adalah alkohol,”

Lalu, bagaimana hukum makanan tersebut jika dikonsumsi oleh orang muslim ? Pada tulisan terdahulu, mengenai arak dalam makanan, dalam kutipan dari situs halalguide.info disebutkan bahwa status makanan tersebut haram dengan dalil bahwa sesuatu yang banyaknya memabukkan, maka sedikitnya juga haram (HR. Abu Daud, no. 3683).

Untuk mendapatkan kepastian jawaban, maka saya pun menanyakan hal tersebut ke konsultasisyariah.com. Selang sehari, saya mendapatkan jawaban melalui email berupa link tentang hukum jual beli khamr. Berikut kutipan artikel yang terkait.

Ada dua syarat agar suatu materi itu bisa disebut khamar: pertama, menghilangkan atau menutupi akal; kedua, menimbulkan rasa nikmat bagi orang yang mengkonsumsinya.

Dengan demikian, materi yang menghilangkan akal namun tidak menimbulkan rasa nikmat tidaklah masuk dalam kategori khamar.

عَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « مَا أَسْكَرَ كَثِيرُهُ فَقَلِيلُهُ حَرَامٌ ».

Dari Jabir bin Abdillah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Jika (sesuatu yang) dikonsumsi dalam jumlah banyak (itu bersifat) memabukkan maka (jika hal tersebut) dikonsumsi dalam jumlah sedikit pun hukumnya tetap haram.” (HR. Abu Daud, no. 3683)

Tentang hadis ini, Ibnu Utsaimin mengatakan, “Banyak orang yang beranggapan bahwa makna hadis di atas adalah bahwa jika khamar bercampur dengan materi yang lain dalam kadar yang banyak maka materi campuran tersebut haram. Makna hadis tidaklah demikian. Yang benar, makna hadis di atas adalah bahwa jika ada suatu materi yang hanya bisa menyebabkan mabuk–apabila dikonsumsi dalam jumlah banyak–maka kadar sedikit yang tidak memabukkan dari materi tersebut pun tetap haram.

Misalnya: Ada minuman yang jika diminum sebanyak sepuluh botol maka akan memabukkan, namun jika hanya minum satu botol maka tidaklah memabukkan. Meminum satu botol yang tidak memabukkan tersebut hukumnya haram. Inilah makna sabda Nabi, ‘Jika (sesuatu yang) dikonsumsi dalam jumlah banyak (itu bersifat) memabukkan maka (jika hal tersebut) dikonsumsi dalam jumlah sedikit pun hukumnya tetap haram.’

Hadis di atas tidak bermaksud bahwa materi yang tercampur dengan sedikit barang memabukkan itu haram dikonsumsi karena jika materi memabukkan (baca: khamar) bercampur dengan materi yang lain dan tidak ada pengaruh khamar dalam materi campuran tersebut maka hukum mengkonsumsi materi campuran tersebut adalah halal, karena sebab diharamkannya khamar–yaitu memabukkan–tidaklah dijumpai dalam materi campuran tersebut.” (Majmu` Fatawa wa Rasail Ibnu Utsaimin, jilid 11, hlm. 253, pertanyaan no. 209, terbitan Dar Ats-Tsaraya, Riyadh, cetakan kedua, 1426 H)Berdasarkan uraian di atas, maka obat yang mengandung campuran alkohol tidaklah termasuk khamar yang haram untuk diperjualbelikan. Syarat khamar adalah menimbulkan rasa nikmat bagi orang yang mengkonsumsinya, dan ini tidak dijumpai pada orang yang mengkonsumsi obat tersebut. Materi yang bercampur dengan khamar adalah halal, jika pada materi campuran tersebut tidak dijumpai pengaruh khamar, yaitu memabukkan. Obat yang mengandung alkohol itu termasuk dalam kaidah mengenai materi yang bercampur dengan khamar. Dalam obat yang bercampur dengan alkohol, tidak dijumpai pengaruh khamar, yaitu memabukkan, sehingga selayaknya obat tersebut dinilai halal untuk dikonsumsi.
Jadi, makanan yang diberi tambahan khamr sebagai penyedap makanan statusnya adalah halal untuk dikonsumsi, dengan catatan penambahan khamr tersebut tidak menyebabkan orang yang memakan makanan tersebut mabuk (kehilangan akal). Wallahu’alam.
Tulisan ini sebagai koreksi dari tulisan sebelumnya “Awas! Ada Arak dalam Makanan”.

2 responses to this post.

  1. Posted by deida on 4 Januari 2012 at 9:21 pm

    mav,, mau tanya,,, aq pernah lihat juga di acara televisi,,, membuat roti tp di campur dengan arak jagung,,,, itu hukumnya apa ya? mksh

    Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: